Tugas Psikologi pendidikan
Motivasi belajaR
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2012
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Motivasi merupakan hal yang sangat
penting bagi setiap individu. karena motivasi merupakan dorongan dari diri
sendiri untuk melakukan sesuatu. Tanpa adanya motivasi, seseorang tidak akan melakukan sesuatu dengan maksimal.
Sebab tidak adanya dorongan dari dirinya sendiri untuk melakukannya.
Motivasi belajar adalah hal yang sangat
penting bagi seorang pelajar. Adanya motivasi belajar akan mendoraong siswa untuk melakukan kegiatan belajar baik
di rumah maupun di sekolah. Motivasi belajar tentunya akan mempengaruhi hasil
belajar siswa. Dalam hal ini maka motivasi belajar berkaitan erat dengan
prestasi. Apabila motivasi belajarnya tinggi, maka prestasi yang di dapatkan
akan maksimal pula. Begitu juga sebaliknya.
Namun, membangun motivasi belajar tidak
semudah yang di bayangkan. Banyak aspek yang mempengaruhinya. Selain diri
sendiri dan lingkungan, tentunya masih ada hal lain lagi. Ini perlu diketahui
oleh siswa. Karna akan mempengaruhi motivasi belajarnya. Selain itu, siswa juga
perlu mengetahui cara- cara untuk meningkatkan motivasi belajarnya. Agar
kegiatan belajar mengajar yang dilakukan dapat membuahkan prestasi yang
maksimal.
B.
RUMUSAN
MASALAH
1. Apa
pengertian motivasi?
2. Apa
peran penting motivasi dalam belajar?
3. Apa
saja faktor- faktor yang mempengaruhi motivasi belajar?
C.
TUJUAN
1. Mengetahui
dan memahami pengertian motivasi.
2. Memahami
peran penting motivasi dalam belajar.
3. Mengetahui
faktor- faktor yang mempengaruhi motivasi belajar.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN
DAN
HAKEKAT MOTIVASI
Studi Kasus :
Menggambar Cepat
Tidak seperti teman-teman
sekelasnya yang lebih berorientasi social, Anya adalah murid pendiam yang
biasanya lebih memilih sendirian. Jika dia memiliki waktu senggang di kelas,
dia akan mengambil beberapa kertas dan sebuah pensil lalu mulai menggambar.
Kecintaanya pada menggambar tampak selama pelajaran dan tugas yang diberikan. Misalnya dia mendesain selebaran dengan berbagai
coretan rumit, menghias esai dan cerita-cerita pendek
dengan ilustrasi, serta kadang menggambar lukisan kata-kata di daftar ejaan
mingguan.
Tidak mengejutkan, Anya selalu
tidak sabaran menantikan
kelas seninya. Ketika hari itu tiba, ia sangat memperhatikan ketika guru
seninya menjelaskan atau menunjukkan teknik menggambar yang baru. Dia hanyut
dalam setiap tugas menggambar yang diberikan kepadanya, dan seperti tidak
peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Guru seni Anya mencatat dengan bangga
betapa ketrampilan seni Anya telah meningkat selama tahun ajaran berlangsung.
Anya mengatakan terus terang
tentang minatnya tersebut. “ketika aku dewasa nanti, aku ingin menjadi seniman
professional,” ujarnya dengan sungguh-sungguh. “ sementara itu, aku akan
berlatih, berlatih, dan berlatih.” Kita akan melanjutkan pembahasan tentang
motivasi, dimana kita akan melihat berbagai faktor kognitif yang mempengaruhi
motivasi siswa untuk belajar dan meraih keberhasilan di kelas.
Jika
menyangkut seni, Anya sangat termotivasi. Kita dapat mengambil kesimpulan ini
berdasarkan perhatiannya di kelas, antusiasmenya menggambar dimanapun dia lakukan demi menggapai cita-citanya. Motivasi adalah
sesuatu
yang menghidupkan (energize), mengarahkan dan mempertahankan perilaku; motivasi
membuat siswa bergerak, menempatkan mereka dalam suatu arah tertentu, dan
menjaga mereka agar terus bergerak. Kita sering melihat motivasi siswa tercemin
dalam investasi pribadi dan dalam keterlibatan kognitif, emosional, dan
perilaku di berbagai aktivitas sekolah (Fredricks, Blumenfeld, & Paris
2004; Maehr & Meyer 2004, Reeve 2006).
Semua siswa
termotivasi dalam suatu cara tertentu. Seorang siswa mungin tertarik pada pelajaran
di kelas dan mendapatkan nilai tinggi dalam setiap
tugasnya. Siswa lainnya
mungkin lebih tertarik dengan sisi sosial sekolah, sering berinteraksi dengan tema sekelas, hampir setiap minggu mengikuti aktifitas ekstrakulikuler,
dan mungkin mencalonkan diri sebagai ketua kelas. Siswa lain mungin berfokus
pada atletik, unggul di kelas pelajaran fisik, hamper setiap siang dan akhir
pecan bermain atau melihat pertandingan olahraga, dan mengikuti perkumpulan
fitness. Sedangkan siswa-siswa lainnya mungkin karena ketidakmampuan belajar
yang tidak terdeteksi, sifat pemalu, atau tubuh yang tak terkoordinasi mungkin
termotivasi untuk menghindari aktivitas akademik, situasi social, atau
aktivitas atletik.
Ketika Anya datang ke sekolah
setiap hari, dia membawa serta minatnya yang kuat terhadap seni. Namun otivasi
tidak selalu merupakan sesuatu yang dibawa oleh siswa ke sekolah; motivasi juga
muncul dari kondisi lingkungan di sekolah. Ketika kita berbicara tentang
bagaimana lingkungan dapat meningkatkan motivasi seorang siswa untuk
mempelajari hal-hal tertentu atau berperilaku dalam cara-cara tertentu, kita
sedang membicarakan motivasi yang
tersituasikan (situated motivation)(Paris & Turner 1994; Rueda &
Moll 1994). Didalam halaman-halaman selanjutnya kita akan menemukan bahwa sebagai
guru, kita dapat melakukan berbagai hal untuk memotivasi siswa belajar dan
berperilkau dalam cara-cara yang meningkatkan kesuksesan dan produktivitas
jangka panjang mereka.
Menurut Mc. Donal yang dikutip oleh
Oemar Hamalik (2003:158) motivasi adalah perubahan energy dalam diri seseorang yang di tandai dengan
timbulnya perasaan dan reaksi untuk
mencapai tujuan. A.M Sardiman (2005:75)
mengatakan bahwa motivasi adalah serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi- kondisi tertentu, sehingga seseorang mau dan
ingin melakukan sesuatu, dan bila ia tidak suka, maka akan berusaha meniadakan
atau mengelakperasaan tidak suka itu. Dari kedua pandapat tersebut, terlihat
bahwa motivasi adalah hal yang berkaitan dengan diri sendiri.
Menurut Huitt, W. (2001) motivasi adalah
suatu kondisi atau status internal (kadang-kadang diartikan sebagai kebutuhan,
keinginan, atau hasrat) yang mengarahkan perilaku seseorang untuk aktif
bertindak dalam rangka mencapai suatu tujuan. Thursan Hakim (2000 : 26)
mengatakan bahwa motivasi adalah suatu dorongan kehendak yang menyebabkan
seseorang melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam
belajar, tingkat ketekunan siswa sangat ditentukan oleh adanya motif dan kuat
lemahnya motivasi belajar yang ditimbulkan motif tersebut. Hampir sama dengan
kedua pendapat di atas. Bahwa motivasi erat kaitannya dengan diri sendiri dan
tujuan yang akan dicapai.
Motivasi adalah suatu hal yang abstrak,
namun sangat penting. Motivasi tidak dapat ditunjukkan secara nyata bagaimana
bentuknya. Namun motivasi dapat di buktikan dengan hasil yang telah diraih.
Apakah sudah sesuai tujuan atau tidak. Dapat pula ditunjukkan dengan kegiatan-
kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan.
Sedangkan menurut Siti Sumarni (2005), Thomas L.
Good dan Jere B. Braphy (1986) motivasi di definisikan sebagai suatu energi penggerak dan pengarah, yang
dapat memperkuat dan mendorong seseorang untuk bertingkah laku. Dari pendapat
ini, berarti segala sesuatu di dasari oleh motivasi.
Dari pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan
bahwa motivasi adalah dorongan atau dukungan untuk melakukan sesuatu hal baik
yang berasal dari diri sendiri maupun orang lain, agar hal tersebut terlaksana
dengan baik.
Motivasi yang berasal dari diri sendiri
biasanya berupa niat, tekad, dan keinginan atau kemauan yang sangat besar untuk
menggapai atau meraih sesuatu, sehingga menjadikan orang tersebut melakukan usaha yang keras. Motivasi yang
berasal dari orang lain bisa berasal dari orang tua, keluarga, sahabat, teman,
dan lainnya. Baik motivasi yang berasal dari diri sendiri maupan orang lain
sama- sama mempunyai pengaruh bagi seseorang. Besar tidaknya tergantung
individu itu sendiri.
Jika dikaitkan dengan proses belajar,
tentunya motivasi sangatlah berperan penting. Motivasi akan berpengaruh pada
proses belajar siswa. Motivasi belajar adalah keinginan siswa untuk mengambil
bagian di dalam proses pembelajaran (Linda S. Lumsden: 1994). Jika seorang
siswa mempunyai motivasi belajar yang tinggi, maka dia pun akan berusaha untuk
mengambil bagian yang maksimal dalam proses belajar. Dalam hal ini dapat
diartikan bahwa siswa akan berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.
Tentunya ini akan berdampak
pada ilmu pengetahuan yang diperoleh selama proses pembelajaran berlangsung.
Dapat dikatakan secara singkat bahwa motivasi belajar tinggi akan mengakibatkan
partisipasi aktif dan mendapat ilmu pengetahuan yang maksimal.
Menurut Hermine Marshall Istilah
motivasi belajar mempunyai arti yang sedikit berbeda. Ia menggambarkan bahwa
motivasi belajar adalah kebermaknaan, nilai, dan keuntungan-keuntungan kegiatan
belajar tersebut cukup menarik bagi siswa untuk melakukan kegiatan belajar. Di
sini berarti motivasi belajar baru akan
timbul jika kegiatan belajar mengajar tersebut di anggap menarik oleh siswa.
Pendapat lain mengatakan bahwa motivasi belajar itu ditandai oleh jangka
panjang, kualitas keterlibatan di dalam pelajaran dan kesanggupan untuk melakukan
proses belajar (Carole Ames: 1990). Ini
merupakan cerminan dari motivasi belajar.
Jadi motivasi belajar adalah dorongan
dari dalam diri seorang siswa untuk megikuti proses pembelajaran dan semua yang
bersangkutan dengan proses pembelajaran agar memperoleh ilmu yang di harapkan.
Motivasi belajar dapat dilihat dari tinggi rendahnya partisipasi dalam
mengikuti proses pembelajaran, dan tinggi rendahnya hasil yang telah di capai
oleh siswa tersebut.
Keadaan
motivasi belajar terkait erat dengan struktur pembelajaran yang digunakan guru
di kelas. Struktur pembelajaran yang dikenal adalah struktur kompetitif,
struktur individual, dan struktur kooperatif (Ames, 1984). Jadi dapat dikatakan
bahwa guru memegang peranan penting dalam motivasi belajar siswa pula.
Ketiga
struktur pembelajaran di atas secara singkat dijelaskan oleh Haris Mudjiman
(2005: 70-72) sebagai berikut:
1. Struktur Kompetitif
Struktur pembelajaran yang
digunakan dalam pendidikan formal-tradisional adalah struktur kompetitif.
Sistem penilaian yang digunakan dalam struktur ini mendorong siswa untuk
berkompetisi dengan kawan-kawannya. Kemampuan mereka diukur dengan nilai dan
rank. Orientasi siswa adalah “menang atau kalah”. Belajar yang berhasil adalah
kalau dapat mengalahkan kawannya sehingga terjadi persaingan dengan segala
akibat baik dan buruknya.
Dalam struktur pembelajaran
kompetitif, motivasi belajar siswa bersifat egoistic, karena kompetisi dalam
konteks system tradisional menumbuhkan sikap self defense. Namun demikian
struktur pembelajaran kompetitif motivasi belajar juga bersifat social
comparative. Tujuan belajar tidak semata-mata untuk menguasai sesuatu
kompetensi melainkan untuk menunjukkan kepada siswa lain bahwa ia lebih baik.
Ini merupakan salah satu ciri motivasi eakstrinsik.
2.
Struktur Individual
Pembelajaran dengan struktur individual banyak dijalankan dalam system pendidikan nonformal atau dalam pendidikan formal-tradisional tetapi ada penugasan-penugasan individual sesuai minat masing-masing. Dalam struktur pembelajaran individual , siswa berorientasi kepada pencapaian kompetisi. Bila masih terjadi kompetensi, yang terjadi adalah kompetisi dengan diri sendiri, bukan dengan kawan-kawannya.
Suasana bebas dari rasa tertekan. Umumnya siswa percaya bahwa kerasnya usahalah yang menentukan keberhasilan belajar, bukan semata-mata kemampuan. Dalam struktur pembelajaran ini motivasi belajar siswa berorientasi ke penguasaan sesuatu kompetensi. Sifat motivasinya intrinsik.
3.Struktur Kooperatif
Struktur Pembelajarn ini dapat
dilaksanakan di kelas-kelas tradisional dalam bentuk kerja kelompok, atau di
kelas-kelas pendidikan non-formal. Sikap kompetitif masih ada pada setiap
kelompok, tetapi orientasi belajar utamanya adalah ke pencapaian suatu
keompetensi atau pemecahan masalah.
B.
PERAN PENTING MOTIVASI
Peran Orangtua
dalam Motivasi Belajar Siswa
Seperti yang telah di jabarkan
sebelumnya, motivasi belajar tidak hanya berasal dari diri sendiri. Namun juga
ada yang berasal dari luar. Dalam hal ini adalah oarng tua. Orang tua memegang
peranan penting dalam motivasi belajar siswa. Karna sebelum mendapat pendidikan
di sekolah, anak(siswa) telah mendapat pendidikan moral dan karakter dari orang
tua. Jadi di sini peranan orang tua sangatlah penting dalam memotivasi anaknya
untuk belajar. Motivasi yang diberikan oleh orang tua tentunya berbeda- beda.
Ada yang memberikan motivasi secara lisan dan langsung. Ada pula bentuk
motivasi yang di berikan dengan memvasilitasi anaknya dalam belajar. Berbagai
bentuk motivasi dapat dilakukan oleh orang tua. Asal masih dalam taraf
mendukung anaknya untuk belajar. Lingkungan
kelurga sangat berpengaruh terhdap keberhasilan belajar siswa. Pengaruh pertama
dan utama bagi kehidupan dan perkembangan seseorang adalah keluarga. Banyak
waktu dan kesempatan bagi anak untuk berjumpa dan berinteraksi dengan keluarga.
Perjumpaan dan interaksi ini tersebut sangat besar pengaruhnya bagi perilaku
dan prestasi seseorang. Seiring dengan perkembangan jaman, dalam kenyataan
sering tidak terasa lelah terdapat pergeseran fungsi peran orang tua pendidikan
anaknya. Kebanyakan para orang tua menyerahkan sepeneuhnya pendidikan anaknya
pada sekolah. Padahal seharusnya orang tua memberikan perhatian dan semangat
belajar yang lebih sehingga dapat memunculkan motivasi belajar anak karena
waktu dirumah lebih banyak dari pada disekolah. keterlibatan orang tua dalam
menumbuhkan motivasi belajar perlu diusahakan, baik berupa perhatian bimbingan
kepada anak dirumah maupun berprestasi secara individual dan kolektif terhadap
sekolah dan kegiatannya, serta memperhatikan kesulitan yang dialami anak dalam
proses belajar. Orang tua adalah sebagai pembuka kemungkinan terselenggaranya
pendidikan bagi anaknya serta berperan sebagai guru bagi mereka. Orang tua
mampu mendidik dengan baik, mampu berkomunikasi dengan baik, penuh perhatian
terhadap anak, tahu kebutuhan dan kesulitan yang dihadapi anak dan mampu
menciptakan hubungan baik dengan anak-anaknya akan berpengaruh besar terhadap
keinginan anak untuk belajar atau sebaliknya.
Peran Guru
Dalam Motivasi Belajar
Peran pengajar dalah membangkitkan
motivasi dalam diri peserta didiknya agar makin aktif belajar. Strategi utama
dalam membangkitkan motivasi belajar pada dasrnya terletak pada guru atau
pelajar itu sendiri. Membangkitkan motivasi belajar tidak hanya terletak
bagaimana peran pengajar, namun banyak hal yang mempengaruhinya. Kreatifitas
setra aktifitas pengajar harus mampu menjadi inspirasi bagi para siswa sehingga
siswa akan lebih terpacu motivasi untuk belajar, berkarya dan berkreasi.
Pengajar bertugas memperkuat motivasi belajar siswa lewat penyajian pelajaran,
sanksi-sanksi dan hubungan pribadi siswanya. Dalam hal ini pengajar melakukan
hal yang menggiatkan anak dalam belajar. Peran pengajar untuk mengelola
motivasi bewlajar sangat penting dan dapat dilakukan melelui berbagai aktifitas
belajar. Kemampuan mengajar menjadikan dirinya model yang mampu membangkitkan
rasa ingin tahu dan kesanggupan dalam diri peserta didik merupakan aset utama
dalam membangkitkan motivasi.
Kondisi
Lingkungan
Sebagai
anggota masyarakata maka siswa dapat terpenagruh oleg lingkunagn sekitar.
Lingkungan sekitar berupa keadaan alam, tempat tinggal, pergaulan sebaya dan
lingkungan sekitar. Oleh karena itu kondisi lingkungan yang sehat turut
mempengaruhi motivasi belajar. Karakteristik fisik lingkunagan belajar,
keterjangkauan dan ketersediaan sumber daya manusia dan materi dapat
mempengaruhi tingkat motivasi seseorang dan lingkungan juga dapat membentuk
atau mengurangi kondisi penerimaan pembelajaran. Lingkungan yang aman, nyaman
dan bisa disesuaikan sendiri dapat menumbuhkan dorongan untuk belajar.
Sebaliknya lingkungan yang kurang menyenangkan seperti kegaduhan, kekacauan dan
tidak adanya privasi dapat mengganggu kapasitas untuk berkonsentrasi dan
menumbuhkan keinginan untuk tidak belajar.
STUDY KASUS
Salah satu kasus yang kita ambil untuk
dianalisa tentang peran penting motivasi adalah kisah yang ada pada film
“Semesta Mendukung” (film di lampiran).
Resensi
film:
Judul
: Semesta Mendukung
Durasi
: 01:37:37
Produksi
: MIZAN
Sinopsis:
Film ini mengisahkan tentang seorang
anak bernama Arif, tinggal di sebuah desa yang belum maju di pulau Madura.
Semenjak SD, Arif di tinggal ibunya merantau ke Singapura. Arif pun di besarkan
oleh seorang ayah yang berprofesi sebagai supir truk di sebuah rumah sederhana.
Arif yang sekarang duduk di jenjang SMP tumbuh dengan budaya Madura. Salah
satunya adalah budaya karapan sapi.
Arif termasuk siswa yang cerdas.
Terutama di mata pelajaran fisika. Dia mempelajari konsep- konsep fisika dari
kehidupan sehari- hari. Ibu Tari, guru fisika Arif sangat memperhatikan
kemampuan muridnya itu. Suatu ketika, Ibu Tari merekam tindakan Arif yang
membuat roket air untuk mengambil bola yang tersangkut di pohon. Ibu Tari yang
mulanya seorang pembimbing FUSI (FISIKA
UNTUK INDONESIA) di Jakarta mengirimkan
video tersebut kepada rekannya , Pak Yohannes. Beliau pun tertarik untuk
mengajak Arif bergabung di FUSI, di mana para anak- anak pecinta fisika di
tempa untuk mengikuti Olimpiade. Beliau berangkat ke Madura untuk menjemput
Arif. Awalnya Arif tidak mau bergabung. Namun setelah dia mengetahui bahwa 6
terbaik akan di kirim untuk mengikuti olimpiade di Singapur, akhirnya Arif
bersedia ikut ke Jakarta. Dia berharap
bisa menjadi 6 terbaik, dan pergi ke Singapur untuk mencari ibunya.
Selama di Jakarta Arif mendapat banyak pelajaran tentang fisika. Namun prestasi
belajarnya rendah. Dia urutan terbawah pada ujian pertamanya. Arif bertemu
seorang teman bernama Thamrin yang juga menginginkan tiket olimpiade tersebut.
Motiv Thamrin berbeda dengan Arif. Thamrin ingin mengikuti olimpiade tersebut
agar dia mendapat beasiswa. Arif kembali bersemangat, setelah berteman dengan
Thamrin. Bukan hasil yag sia- sia. Prestasi belajar Arif meningkat. Dan
akhirnya dia pun menuju Singapura bersama teman- teman yang lain. Namun sayang, di Singapura dia tidak menemukan
ibunya. Alamat yang di bawanya tidak mengantarkan dia pada ibunya.
Pada
olimpiade tersebut, Arif berhasil memenangkannya. Dia pun kembali ke desanya.
Ternyata sang ibu sudah kembali. Arif pun sangat bahagia.
Dari contoh kasus tersebut, dapat dilihat semangat seorang anak (Arif) untuk dapat mengikuti olimpiade fisika di
Singapura. Motivasi terbesarnya adalah
untuk mencari ibunya. Di sisi lain, teman Arif (Thamrin) juga menginginkan hal
yang sama, namun dengan motivasi yang berbeda. Yaitu menginginkan beasiswa. Di
sini sudah terlihat bahwa motivasi mempunyai peran yang sangat penting.
Motivasi dapat menimbulkan semangat untuk meraih tujuan.
Peran penting motivasi salah satunya
adalah untuk memberikan suntikan semangat yang luar biasa.
C.
FAKTOR-
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MOTIVASI
Ada
beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi. Berikut akan di jelaskan tentang
faktor- faktor tersebut, dan dapat di lihat bahwa faktor- faktor tersebut
memiliki pengaruh
kuat terhadap perilaku dan belajar peserta didik.
1.
Sikap
Sikap
merupakan kombinasi dari konsep, informasi,dan emosi yang di hasilkan di dalam
predisposisi untuk merespon orang,
krlompok, gagasan, peristiw atau objek tertentu secara menyenangkan atau tidak
menyenangkan.
Contohnya,
peserta didik baru akan mengikuti pelajaran tertentu. Seorang temannya yang
telah mengikuti pelajaran tersebut menceritakan pengalamannya bahwa pendidiknya
bersikap autoritatif dan sombong. Peserta didik tersebut kemudian merasa agak cemas pada waktu mengantisipasi
pelajaran yang akan di ikuti. Pada pertemuan pembelajaran pertama, pendidik,
dengan cara tertentu mendiskusikan kegiatan pembelajaran dan persyaratan yang
harus dimiliki oleh peserta didik. Peserta didik tersebut menilai gaya mengajar
pendidik tersebut kurang baik. Sekarang dia mencemaskan cara pendidik dalam
mengajar pelajaran yang akan di ikuti. Peserta didik tersebut telah
mengkombinasikan informasi dan emosi ke
dalam suatu predisposisi untuk meresponpeserta didikdan peristiwa yang tidak
menyenangkan. Apabila temannya tersebut menceritakan bahwa pendidik mata
pelajaran tersebut sangat membantu dan mempedulikan semua peserta didik,
mungkin sikap peserta didik tersebut akan berbeda.
Sikap
merupakan produk dari kegiatan belajar. Sikap di peroleh melalui proses seperti
pengalaman, pembelajaran, identifikasi, perilaku peran ( pendidik- murid, orang
tua- anak, dan sebagainya). Karena sikap
itu dipelajari, sikap juga dapat dimodivikasi dan diubah. Pengalaman baru
secara konstan mempengaruhi sikap, membuat sikap berubah, intensif, lemah atau
sebaliknya.
2.
Kebutuhan
Kebutuhan merupakan
kondisi yang dialami oleh
individu sebagai suatu kekuatan internal yang memandu peserta didik untuk
mencapai tujuan. Perolehan tujuan merupakan
kemampuan melepaskan atau mengakhiri perasaan kebutuhan dan tekanan.
Pendekatan yang paling terkenal terhadap konsep kebutuhan
adalah yang dikembangkan oleh Maslow. Teori holistik dan dinamik ini
mengasumsikan bahwa pemenuhan kebutuhan merupakan prinsip yang paling penting
yang mendasari perkembangan manusia. Maslow mengorganisir hirarkhi kebutuhan
yang disusun sesuai dengan prepotensi. Prepotensi berarti bahwa apabila
kebutuhan dipenuhi pada satu tingkatan, maka tingkatan kebutuhan yang lebih tinggi akan menjadi penentu di dalam
mempengaruhi perilaku seseorang . Apabila kebutuhan yang lebih rendah tidak
dipenuhi secara sempurna, maka sulit bagi kebutuhan yang lebih tinggi
berikutnya mempengaruhi perilaku seseorang. Peserta didik yang mengalami kesepian
( kebutuhan cinta dan ingin memiliki ) akan memiliki kesulitan untuk menjadi
kompeten ( kebutuhan penghargaan ) .
3.
Rangsangan
Rangsangan merupakan perubahan di dalam persepsi atau
pengalaman dengan lingkungan yang membuat seseorang bersifat aktif . Seseorang
melihat sesuatu dan tertarik padanya, mendengar sesuatu yang baru dan
mendengarkan suara secara seksama, menyentuh sesuatu yang tidak diharapkan dan
menarik tangan dari padanya. Semua itu merupakan pengalaman yang merangsang.
Apapun kualitasnya, stimulus yang unik akan menarik perhatian setiap orang dan
cenderung mempertahankan keterlibatan diri secara aktif terhadap stimulus tersebut.
Rangsangan secara langsung membantu memenuhi kebutuhan
pelajar peserta didik. Apabila peserta didik tidak memperhatikan pembelajaran,
maka sedikit sekali belajar akan terjadi pada diri peserta didik tersebut.
Proses pembelajaran dan materi yang terkait dapat membuat sekumpulan kegiatan
belajar. Setiap peserta didik memiliki keinginan untuk mempelajari sesustu dan
memiliki sifat positif terhadap materi pembelajaran. Namun apabila mereka tidak
menemukan proses pembelajaran yang merangsang, maka perhatiannya akan menurun.
Pembelajaran yang tidak merangsang mengakibatkan peserta didik yang pada
mulanya termotivasi untuk belajar pada akhirnya menjadi bosan dalam
pembelajaran.
4.
Afeksi
Konsep afeksi
berkaitan dengan pengalaman emosional-kecemasan, kepedulian, dan
pemilikan – dari individu atau kelompok pada waktu belajar. Tidak ada kegiatan
belajar yang terjadi di dalam kevakuman emosional. Peserta didik merasakan
sesuatu saat belajar, dan emosi peserta didik merasakan sesuatu saat belajar,
dan emosi peserta didik tersebut dapat memotivasi perilakunya kepada tujuan.
Beberapa pakar psikologi menyatakan bahwa emosi merupakan penggerak utama
perilaku, dan banyak pakar psikologi menerima gagasan bahwa pikiran dan
perasaan itu berinteraksi dan juga memandu pada perubahan perilaku. Weiner
(1980), yang dikenal sebagai pakar psikologi kognitif, menyatakan bahwa
perasaan di dalam dan pada diri individu dapat memotivasi perilaku.
Gambaran tentang afeksi yang mempengaruhi perilaku dapat
diilustrasikan dalam suatu contoh ilustratif berikut. Seorang peserta didik
meminjam catatan temannya. Dia menyatakan bahwa dia tidak masuk kelas mengalami
kecelakaan. Temennya merasa kasihan sehingga meminjamkan catatannya. Di dalam
contoh itu peserta didik tersebut memiliki pemahaman kognitif yang menimbulkan
perasaan ( kasihan ) yang menyebabkan meminjamkan catatannya. Sebaliknya,
apabila peserta didik yang menderita itu, dia mungkin tidak meminjaman
catatannya.
Keadaan emosi peserta didik pada kegiatan belajar itu
memiliki pengaruh penting. Pendidik hendaknya memahami bahwa emosi peserta
didik bukan saja mempengaruhi cara
berpikirnya. Misalnya, peserta didik menyatakan bahwa dia lupa akan
tugas yang harus diselesaikan sehingga merasa cemas. Untuk mengurangi kecemasan
itu, dia memikirkan alasan pembenaran yang dapat diterima oleh pendidik agar
tidak memperoleh hukuman.
Afeksi dapat
menjadi motivator intrinsik. Apabila emosi bersifat positif pada waktu kegiatan
belajar berlangsung, maka emosi mampu mendorong peserta didik untuk belajar
keras.
5.
Kompetensi
Manusia pada dasarnya memiliki keinginan untuk memperoleh
kompetensi dari lingkungannya. Teori kompetensi mengasumsikan bahwa peserta
didik secara alamiah berusaha keras untuk berinteraksi dengan lingkungannya
secara efektif. Peserta didik secara intrinsik termotivasi untuk menguasai
lingkungan dan mengerjakan tugas-tugas secara berhasil agar menjadi puas.
Demikian pula setiap orang secara genetik diprogram untuk menggali, menerima,
berpikir, memanipulasi, dan mengubah lingkunganbsecara afektif.
Para peneliti telah mempertunjukkan bahwa bayi usia 8
minggudapat mempelajari respon tertentu untuk memanipulasi lingkungannya. Di
dalam suatu penelitian dilaporkan, bayi ditempatkan secara tengkurap dengan sebuah
mainan mobil di atas kepalanya. Dengan membelokkan kepalanya ke kanan,
peralatan elektrik di bantalnya diaktifkan dan menyebabkan mobil itu bergerak.
Pada akhirnya bukan saja anak-anak itu mempelajari gerakan mobil melainkan juga
menampilkan emosi positif (tersenyum) kepada peneliti.
Dalam penelitian psikologi dikemukakan bahwa peserta
didik cenderung termotivasi apabila mereka menilai aktivitas belajar secara
efektif. Karena kesadaran kompetensi memiliki pengaruh kuat terhadap perilaku,
peserta didik yang sedang belajar dan dapat merasakan kemajuan belajarnya
merupakan peserta didik yang termotivasi dengan baik untuk melanjutkan usaha
belajarnya.
Hubungan antara kompetensi dan kepercayaan diri adalah
saling melengkapi. Kompetensi memberikan peluang pada kepercayaan diri untuk
berkembang, dan memberikan dukungan emosional terhadap usaha tertentu dalam
menguasai keterampilan dan pengetahuan baru. Perolehan kompeten dari belajar
baru itu selanjutnya menunjang kepercayaan diri, yang selanjutnya dapat menjadi
faktor pendukung dan motivasi belajar yang lebih luas.
6.
Penguatan
Salah satu hukum Psikologi paling fundamental adalah
prinsip penguatan (reinforcement). Penguatan merupakan peristiwa yang
mempertahankan atau meningkatkan kemungkinan respon. Para pakar psikologi telah
menemukan bahwa perilaku seseorang dapat dibentuk kurang lebih sama melalui
penerapan penguatan positif atau negatif. Penggunaan peristiwa penguatan yang
efektif, seperti penghargaan terhadap hasil karya peserta didik, pujian,
penghargaan sosial, dan perhatian, dinyatakan sebagai variabel penting di dalam
perancangan pembelajaran.
Di dalam teori penguatan, penguatan positif memainkan
peranan penting. Penguat positif menggambarkan konsekuensi atas peristiwa itu
sendiri. Penguat positif dapat terbentuk nyata, misalnya uang, atau dapat
berupa sosial, seperti afeksi.
Penguat negatif merupakan stimulus aversi ataupun
peristiwa yang harus diganti atau dikurangi intensitasnya. Contoh penguatan
negatif misalnya peserta didik bahwa gaya membaca siswa pada waktu membaca
sangat membosankan sehingga harus dihentikan. Karena penguatan negatif
merupakan pendekatan aversif, maka prosedur ini secara potensial sangat
berbahaya dalam mendorong belajar peserta didik.
BAB III
PENUTUP
1.1
Kesimpulan
Dari uraian yang
dikemukakan pada pembahasan sebelumnya,dapat disimpulkan bahwa secara umum motivasi
belajar adalah dorongan dari dalam diri seorang siswa untuk megikuti proses
pembelajaran dan semua yang bersangkutan dengan proses pembelajaran agar
memperoleh ilmu yang di harapkan.
Selain itu, peran penting motivasi salah satunya
adalah untuk memberikan suntikan semangat yang luar biasa. Walaupun motivasi merupakan prasyarat penting dalam
belajar,namun agar aktivitas belajar itu terjadi pada diri anak, ada faktor
lain seperti kemampuan dan kualitas pembelajaran yang harus diperhatikan pula.
Faktor-faktor yang
mempengaruhi motivasi belajar peserta didik yaitu sikap, kebutuhan, rangsangan,
afeksi, kompetensi, dan penguatan.
1.2
Saran
Setelah membaca uraian tentang hakekat, pengertian, peran
serta faktor-faktor dari motivasi
belajar, diharapkan calon pendidik :
a.
Memahami hakekat
dan pengertian motivasi belajar.
b.
Memahami dan
melakukan cara untuk memotivasi peserta didik.
c.
Mengetahui peran
penting motivasi dalam kegiatan pembelajaran.
d.
Mengetahui dan
memahami faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar peserta didik.
DAFTAR PUSTAKA
Santrock,
John, W. 2004. Educational Psychology. New York: McGraw-Hill Co.
RC, Achmad rifa’i dan Catharina Tri Anni.2011.Psikologi Pendidikan.Semarang:Universitas
Negeri Semarang Press
http://setowicaksono8.wordpress.com/2010/11/07/makalah-motivasi-softskill/
Komentar
Posting Komentar